Intimacy Pada Remaja Dilihat Dari Perbedaan Etnis PDF Jurnal



INTIMACY PADA REMAJA
DILIHAT DARI PERBEDAAN ETNIS

Febrianto, Nofrans Eka Saputra
Program Studi Psikologi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi 

ABSTRACT

Background Intimacy is an emotional element in a relationship that involves (self-disclosure) which results in a relationship, warmth, and trust. Intimacy is a proximity that is grounded by two people and the power that binds them to stay together. A feeling that describes the closeness & emotional attachment to others.
Subjective This study aims to see the imitation of intimacy in ethnic diversity.
Methods This study used a quantitative approach with cross sectional techniques and data analysis using ANOVA test. The subject of this study is high school adolescents in Jambi City with a population of 247 people who have dating status. Technique of intake of data by using technique of purposive random sampling.
The result of aitem quality test used in this research is 27 items which is aitem analysis test. Eligible aitem is 27 items with r = 0.30, where the reliability results 0, 928. The homogeneity test rule is normal if the probability is greater than or equal to 0.05 (p> 0.05) with a homogeneity test of 0.023.
Keywords: Relationship, Youth, Ethnicity.





PENDAHULUAN
     Banyak fenomena tentang hubungan antar remaja pada zaman sekarang baik dalam hubungan persahabatan, pacaran, dan hubungan dengan kuluarga. Fenomena ini sangat di pengaruhi oleh cara bergaul remaja yang bebas tampa terkontrol oleh orang tua, peran media dan teman sebaya. Selain faktor exsternal, faktor intirnal juga sangat berpengaruh besar contohnya: keinginan remaja untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu kebutuhan intimacy, hal ini menyebabkan perilaku seksual pranikah pada remaja semangkin meningkat.
     Berdasarkan konferensi pers tahun 2008 di sebutkan bahwa 1 dari 5 perempuan di Indonesia mengalami kekerasan dalam hubungan pacaran (set, 2009).  komisi Nasional perempuan juga mencatat setidaknya selama tahun 2010 terjadi 1.299 kasus kekerasan dalam pacaran sedangkan kekerasan oleh mantan pacar sebanyak 33 kasus (Lazuardi, 2011).
     Istilah keintiman adalah kata subjektif dalam hubungan pacaran. Individu yang berbeda mungkin memiliki interpretasi sendiri terhadap kata tersebut karena latar belakang, jenis kelamin atau tingkat pendidikan mereka. Saya berpikir bahwa keakraban menggambarkan kasih sayang antara pasangan; Beberapa pandangan saya itu sebagai kepercayaan. Karena istilah ini memiliki beberapa definisi, sejumlah peneliti mencoba memberikan definisi ti itu. Beberapa peneliti mendefinisikan keintiman sebagai asosiasi dekat atau pertemanan involvers informal kehangatan, keterbukaan, dan berbagi (Eshleman dan Clake 1978 mengutip lumut dan Schwebel 1993) dan perasaan clossenees, keterhubungan, dan keterikatan dalam hubungan cinta (Sternberg 1986)
     Menurut Sternberg, (2006). Intimacy adalah elemen emosional dalam suatu hubungan yang melibatkan pengungkapan diri (self-disclosure) yang akan menghasilkan sesuatu keterkaitan, kehangatan, dan kepercayaan. Sternberg (2006) juga mengatakan bahwa intimacy adalah kedekatan yang di dasarkan oleh dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk tetap bersama.
     Hubungan dengan keluarga, teman sebaya  atau secara tidak langsung melalui kontribusinya terhadap kompetensi sosial. Dalam hal ini, kompetensi sosial bertindak sebagai mediator yang secara langsung mempengaruhi kapasitas keintiman secara langsung, sedangkan orang tua dan teman berkontribusi pada keintiman melalui pengaruhnya terhadap kompetensi sosial.
     Hazan & Shaver, (1987). Menjelaskan bahwa hubungan romantis pada masa remaja dan dewasa dapat dikonseptualisasikan sebagai proses kelekatan sebagai teori kelekatan pada masa kanak dan figur lekat (orang tua). Teori ini dapat terbentuk atas pengalaman bahwa semenjak masa remaja, figur lekat seorang mulai di transfer teman maupun pasangan dan pada masa “transfer” inilah perilaku akan muncul sesuai dengan kelekatan yang di milikinya, aman ataukah tidak aman.
      Pada kenyataannya kebahagiaan antara hubungan adalah sangat subyektif. Pada umumnya orang memangdang hubungan antar pasangan itu mempunyai kebahagiaan dalam pasangan, namun hal tersebut tidak semua orang merasakannya, begitupun sebaliknya. Kebahagian yang dirasakan oleh pasangan atau orang lain adalah pasangan yang kurang bahagia mungkin saja di presepsikan sebagai pasangan yang berbahagia oleh masyarakat, karena setiap orang tidak melihat sisi kebahagian dari satu faktor saja.
     Pada dasarnya kebahagian akan tercapai jika ada kesediaan saling berkorban, saling menyesuaikan diri, saling merawat cinta kasih, perasaan menjadi satu, kedewasaan kepribadian dan kematangan emosional. Pengertian kebahagian adalah perasaan bahagia, kesenangan dan ketentraman hidup lahir batun, keberuntungan dan kemajuan. Selanjutnya pengertian hubungan adalah keadaan hubungan, kontak, sangkut-paut, ikatan pertalian kekeluargaan atau persahabatan.
     Bagaimana dengan kebahagiaan dalam hubungan intimacy? Sebenarnya untuk mencapai kebahagiaan dalam hubungan intimacy terdapat beberapa aspek yang harus dipenuhi seperti: komitmen, komunikasi, kepeduliaan dan afeksi, penanaman sifat, perspektive tallking wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan terhadap integritas individu, dan kemandirian. Masalahnya tidak semua orang mampu melakukan aspek-aspek tersebut. Dan kebanyakan orang juga melihat kebahagiaan dari beberapa faktor yang lain yang mereka rasakan lebih mudah dari pada hal-hal tersebut.
     Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk membuktikan perbedaan intimacy antara suku melayu, jawa, minang, batak. 
 
METODE PENELITIAN
     Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi untuk membuktikan hipotesis penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA N di kota Jambi, yang berstatus berpacaran.
Sekala penelitian
     Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode skala, yaitu sekala intimacy.
     Skala intimacy disusun melalui indikator komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi, penanaman sifat, perspektive talking, wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan terhadap integritas individu dan kemandirian Orlovski, (1993). Jenis jawaban yaitu favourable dengan pilihan STS (Sanggat tidak setuju) mendapat skor 4, TS (Tidak setuju) mendapat nilai 3, S (Setuju) mendapat nilai 2, dan SS (Sanggat setuju) mendapat nilai 1.
Reliabilitas dan Validitas Skala Penelitian
     Pada penelitian ini, alat ukur yang digunakan adalah skala yang terlebih dahulu dilakukan uji coba kelayakan dengan uji coba validitas dan reliabilitasnya yang dalam hal ini peneliti menggunakan bantuan program SPSS 16.0 For Windows dari MS Windows XP.
     Pada pengujian kualitas aitem yang dipakai dalam penelitian ini dilakukan uji analisis aitem dengan melihat daya beda aitem dengan aitem total korelasi. Aitem yang memenuhi syarat jika r = 0,30. Adapun hasil uji reliabilitas masing-masing skala dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini :
Tabel 1. Reliabilitas dan Validitas Skala Penelitian
Variabel
Jumlah Aitem Valid
Sig
Ket
Intimacy
27
0,928
Reliabel

     Aitem yang memenuhi syarat dan telah dilakukan uji reliabilitas dan validitas pada skala penelitian dapat dilihat pada table 2 dibawah ini:
Tabel 2. Blueprint Skala Intimacy

ASPEK
AITEM

FAOUVORABLE
JUMLAH
Komitmen
1,10,19
3
Komunikasi
2,11,20
3
Kepedulian dan afeksi
3,12,21
3
Pemahaman sifat pasangan
4,13,22
3
Perspektive talking
5,14,23
3
Wewenang dan pengambilan keputusan
6,15,24
3
Mempertahankan minat pribadi
7,16,25
3
Penghormatan terhadap integritas individu
8,17,26
3
Kemandirian
9,18,27
3
JUMLAH
27
27




HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Subjek penelitian
     Subjek penelitian ini berjumlah 247 orang dengan subjek berjenis kelamin laki-laki berjumlah 108 orang (43,7 %), dan subjek perempuan berjumlah 139 orang (56,3 %).
Tabel 3. Deskripsi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Frekuensi
Persentase
Laki-Laki
108
43,7
Perempuan
139
56,3
Jumlah
247
100

    Subjek penelitian yang berjumlah 247 orang ini, memiliki usia yang berbeda-beda, usia 14 tahun 1 orang (0,4 %), usia 15 tahun 56 orang (22,7 %), usia 16 tahun 116 (47,0 %), 17 tahun 65 orang (26,3 %), usia 18 tahun 7 orang (2,8%), dan usia 19 tahun 2 orang (0,8 %).
Tabel 4. Deskripsi Subjek Berdasarkan usia
Usia
Frekuensi
Persentase
14 tahun
1
0,4
15 tahun
56
22,7
16 tahun
116
47,0
17 tahun
65
26,3
18 tahun
7
2,8
19 tahun
2
0,8
Jumlah
247
100
   
     Selanjutnya, subjek yang berjumlah 247 orang ini juga berasal dari sekolah yang berbeda-beda, SMAN 1 Kota Jambi 42 orang (17,0 %), SMAN 2 Kota Jambi 3 orang (1,2 %), SMAN 3 Kota Jambi 12 orang (4,9 %) , SAMN 4 Kota Jambi 38 orang (15,4 %), SMAN 5 Kota Jambi 5 orang (2,0 %), SMAN 6 Kota Jambi 17 orang (6,9 %), SMAN 7 Kota Jambi 25 orang (10,1 %), SMAN 8 Kota Jambi 23 orang (9,3 %), SMAN 9 Kota Jambi 48 orang (18,6 %), SMAN 10 Kota Jambi 24 orang (24,7 %), SMAN 11 Kota Jambi 12 orang (4,9 %).
Tabel 5. Deskripsi Subjek Berdasarkan asal sekolah
Asal sekolah
Frekuensi
Persentase
SMAN 1 Kota Jambi
42
17,0
SMAN 2 Kota Jambi
3
1,2
SMAN 3 Kota Jambi
12
4,9
SMAN 4 Kota Jambi
38
15,4
SMAN 5 Kota Jambi
5
2,0
SMAN 6 Kota Jambi
17
6,9
SMAN 7 Kota Jambi
25
10,1
SMAN 8 Kota Jambi
23
9,3
SMAN 9 Kota Jambi
48
18,6
SMAN 10 Kota Jambi
24
9,7
SMAN 11 Kota Jambi
12
4,9
Jumlah
247
100

     Selanjutnya, yang berjumlah 247 orang ini juga berasal dari suku yang berbeda-beda, Ada yang berasal dari duku melayu sebanyak 119 orang (48,2%), suku Jawa 72 orang (29,1 %), suku Minang 25 orang (10,1 %), dan suku Batak 31 orang (12,6 %).
Tabel 6. Deskripsi Subjek Berdasarkan Agama.
Agama
Frekuensi
persentase
Islam
233
94,3
Kristen
12
4,9
Khatolik
1
0,4
Budha
1
0,4
jumlah
247
100

     Subjek yang berjumlah 247 dengan subjek beragama islam 233 orang (94,3%), kristen 12 orang (4,9%), khatolik 1 orang (0,4%), budha 1 orang (0,4%)
Tabel 7. Deskripsi Subjek Berdasarkan Suku
Suku
Frekuensi
Persentase
Melayu
119
48,2
Jawa
72
29,1
Minang
25
10,1
Batak
31
12,6
Jumlah
247
100

Deskripsi Data Penelitian
     Deskripsi data penelitian bertujuan untuk memberi gambaran mengenai keadaan distribusi skor skala pada kelompok subjek yang diberikan pengukuran, sehingga dapat berfungsi sebagai informasi mengenai keadaan subjek pada variabel yang diteliti. Berdasarkan data subjek penelitian diperoleh data pada tiap-tiap variabel adalah sebagai berikut :
Tabel 8. Deskripsi Data Penelitian
Variabel
Min
Max
Mean
SD
Intimacy
27
108
87,69
10,834

1.      Skor Variabel Intimacy
     Azwar (2004) menyarankan bahwa untuk memberi makna kualitatif terhadap data kuantitatif adalah dengan menggunakan model distrubusi normal. Dengan demikian kategorisasi tentang tinggi rendah dan sedang skor subjek ditentukan dari posisinya dalam distribusi normal. Model inilah yang akan digunakan dalam penelitian ini. Suatu distribusi normal terdiri dari enam area dalam satuan standar deviasi. Tiga disebelah kiri rerata yang bertanda negatif (-1 SD, -2 SD dan -3 SD) dan tiga di sebelah kanan yang bertanda positif (+1 SD, +2 SD, +3 SD).
     Azwar (2000) membagi 5 kategorisasi, yaitu kurang dari -1.5 SD + Mean berarti sangat rendah, lebih dari -1.5 SD + Mean sampai dengan kurang dari -0.5 SD + Mean berarti rendah, lebih mulai dari -0.5 SD + Mean sampai kurang dari 0.5 SD + Mean termasuk kelompok sedang, lebih dari 0.5 SD + Mean sampai dengan 1.5 SD + Mean termasuk kelompok tinggi dan terakhir lebih dari 1.5 SD + Mean berarti masuk kategorisasi sangat tinggi.
Tabel 9. Katagori Skor Variabel Intimacy
Kategori
Subjek
Jmh
%
rendah
26
10,53
sedang
187
75,71
tinggi
34
13,77

     Tabel kategorisasi diatas menunjukan subjek tersebar pada seluruh kategori. Subjek dengan katagori rendah berjumlah  26 orang (10,53%), subjek dengan katagori sedang 187 orang (75,71%), subjek dengan katagori tinggi 34 orang (13,77%).
Hasil Uji Asumsi
a.       Uji asusmsi Normalitas
     Uji normalitas dilakukan menggunakan teknik kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program spss 16 for windows. Kaidah uji normalitas dinyatakan normal jika probabilitas lebih besar atau sama dengan 0,05 (p > 0,05). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 10.
Tabel 10. Uji Normalitas
Variabel
K-SZ
Sig
Ket
intimacy
1,285
0,074
Normal



b.      Uji homogenitas
     Uji homogenitas dilakukan menggunakan Tukey dengan bantuan program SPSS 16for Windows. Kaidah uji homogenitas dinyatakan normal jika probabilitas lebih besar atau sama dengan 0,05 (p > 0,05). Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Uji Homogenitas
Variabel
N
Sig
Ket
Persahabatan
247
0.023
Homogen

Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan pengujian hipotesis tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Perbedaan hubungan persahabatan pada remaja dengan keberagaman suku yang berbeda menunjukan koefisien p sebesar 0,23 dengan signifikan sebesar 0,000 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara suku melayu, jawa, minang, dan batak dalam menjalin hubungan intimacy. Hal tersebut menunjukan bahwa hipotesis mayor diterima.
2. Berdasarkan hasil diatas dimana adanya perbedaan suku yang signifikan pada remaja dalam menjalin hubungan intimacy atau adanya interaksi yang berbeda dalam intimacy pada remaja dengan suku yang berbeda. Hal tersebut menunjukan bahwa hipotesis minor ditolak.
PEMBAHASAN
     Berdasarkan skor variabel intimacy diketahui bahwa kecenderungan skor subjek penelitian berada di kategori sedang dan dan tinggi, yaitu 75,71% (katagori sedang), 13,77% (Katagori tinggi), dan 10,53% berada di katagori rendah dari 247 subjek, sehingga dapat di ketahui sebesar 89,48% dari subjek penelitian merasa hubungan intimacy yang mereka jalani sudah berjalan baik, Hal ini secara dominan disebabkan subjek penelitian merasa mempunyai komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi, penanaman sifat, prespektive talking, wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan terhadap integritas dan kemandirian yang baik dalam hubungan pacaran.
     Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hubungan intimacy yang di jalani telah terpenuhi dan subjek merasa hubungan yang di jalani dalam pacaran memberikan hubungan yang baik dalam intimacy mereka hasil analisisnya dapat dilihat pada tabel 12.





Tabel 11. Frekuensi Masing-Masing Aitem Intimacy
Komponen
No. Aitem
Persentase
Komitmen

1.Memelihara hubungan akrab adalah tugas setiap pasangan.
93,9%
10.Berjanji untuk saling terbuka adalah     bagian dari menjalin hubungan dekat.
87%
19.kesetiaan dalam situasi apapun terhadap pasangan adalah hal yang dapat saya lakukan.
87,9%
Komunikasi

2.Merasa nyaman ketika bercerita dan curhat dengan pasangan dan terbuka.
89,9%
11.jujur adalah kunci dari komunikasi dalam menjalin hubunga dekat.
94,4%
20.pasangan adalah tempat terbaik untuk meminta saran dan barbagi cerita suka maupun duka.
82,6%
Kepedulian dan afeksi

3.Memperhatikan pasangan adalah tugas dari diri sendiri.
81,8%
12.Menghargai pendapat pasangan adalah sebagai bentuk rasa peduli.
92,3%
21.Mementingkan kepentingan pasangan  di atas kepentingan pribadi adalah cara untuk memperhatikan dan peduli terhadap pasangannya.
72,5%
Pemahaman sifat

4.Mampu menerima sifat pasangan adalah usaha untuk memperhatikan hubungan.
94,4%
13.Menerima kekurangan setiap pasangan itu adalah hal yang baik.
92,3%
22.Dalam kondisi bagaimanapun saya dapat memahami sifat baik maupun buruk terhadap pasangan saya.
89,5%
Perspektive talking

5.Memposisikan diri pada sudut pandang akan membantu penyelesaian masalah.
87%
14.Berusaha memahami pasangan saat komunikasi adalah hal yang baik.
93,5%
23.Dalam berkomunikasi saya berusaha memahami apa yang dirasakan oleh pasangan saya.
89,5%
Wewenang dan pengambilan keputusan

6.Menghormati keputusan bersama adalah bagian dari upaya menjaga hubungan yang baik.
91,3%
15.Menghargai perbedaan pendapat dari pasangan merupakan kewajiban diri sendiri.
89,1%
24.Dalam keadaan tertentu saya mampu menghargai sikap pasangan dan keputusan yang diambilnya.
97,6%
Mempertahankan minat pribadi

7.Memberikan kebebasan dalam melakukan aktifitas adalah upaya memperhatikan hubungan dekat.
84,6%
16.Tidak ikut serta dengan apa yang pasangan lakukan adalah bagian untuk menghormati setiap keputusan masing-masing.
80,6%
25.Dalam kondisi tertentu, saya menghormati aktivitas yang dilakukan pasangan saya.
96,%
Penghormatan terhadap integritas
8.Menghargai pandangan hidup pasangan adalah cara untuk menghormatinya.
90,7%
16.Hubungan akrab menunjukan relasi harmonis antara pasangan.
80,6%
26.Berteman dengan siapa saja adalah hak pasangan saya.
85%
Kemandirian

9.Menentukan pendapat sendiri adalah bagian dalam membangun kemandirian.
84,2%
17.Perbedaan sifat adalah bentuk menjaga hubungan akrab terhadap pasangan.
94,3%
27.Dalam menentukan keputusan atau memilih suatu hal tertentu adalah bagian kemandirian yang saya bangun dari pasangan saya.
89,9%


     Jiika di amati dari persentase jumlah point dari masing-masing aitem dari skala intimacy, dapat pula di simpulkan bahwa hubungan intimacy ini lebih dominan disebabkan bahwa dalam hubungan pacaran memiliki komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi, pemahaman sifat, perspective talking, wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan antar integritas dan kemandirian yang baik dalam menjalin hubungan. Hal ini sebagian subjek merasa saling membutuhkan satu sama lain antar hubungan.




Tabel 12. Perbedaan intimacy berdasarkan suku
Suku
Perbedaan
Rata-Rata (A-B)
Signifikansi
A
B

Jawa
-2,833
Sig*
Melayu
Batak
-0,839
Sig*

Minang
-3,316
Sig*

Melayu
2,833
Sig*
Jawa
Batak
1,994
Sig*

Minang
-0,483
Sig*

Melayu
0,839
Sig*
Batak
Jawa
-1,994
Sig*

Minang
-2,477
Sig*

Melayu
3,316
Sig*
Minang
Jawa
0,483
Sig*

Batak
2,477
Sig*

*            =    > 0.05
**     =    £ 0.05
***   =    £ 0.01
     Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat bahwa:
1.      Intimacy pada remaja dengan suku melayu memiliki perbedaan signifikan dengan remaja suku jawa, suku batak dan suku minang.
2.      Intimacy pada remaja suku jawa memiliki perbedaan yang signifikan dengan remaja suku melayu, suku batak, dan suku minang.
3.      Intimacy remaja suku batak memiliki perbedaan yang signifikan dengan remaja suku melayu, suku jawa dan suku minang.
4.      Intimacy remaja suku minang memiliki perbedaan yang signifikan dengan remaja suku melayu, suku jawa, dan suku batak.
KESIMPULAN
     Berdasarkan teori dan hasil penelitian, dapat di simpulkan bahwa:
1.      Istilah keintiman adalah kata subjektif dalam hubungan pacaran. Individu yang berbeda mungkin memiliki interpretasi sendiri terhadap kata tersebut karena latar belakang, jenis kelamin atau tingkat pendidikan mereka. Beberapa saya berpikir bahwa keakraban menggambarkan kasih sayang antara pasangan; Beberapa pandangan saya itu sebagai kepercayaan.
2.      Intimacy pada remaja berada di kategori sedang dan tinggi, yaitu 75,71% (katagori sedang), 13,77% (Katagori tinggi), dan 10,53% berada di katagori rendah dari 247 subjek, sehingga dapat di ketahui sebesar 89,48% dari subjek penelitian merasa hubungan intimacy yang mereka jalani sudah berjalan baik.
3.      Intimacy pada remaja berdasarkan suku memiliki perbedaan yang signifikan, antara suku melayu, suku, jawa, suku batak, dan suku minang.
SARAN
     Dalam penelitian ini, ada beberapa saran yang dijukan oleh peneliti, antara lain yaitu :
Kepada Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian dengan variabel yang sama tetapi dalam konteks hubungan interpersonal yang berbeda seperti dalam hubungan intimacy dalam pacaran pada usia remaja
     Jika peneliti selanjutnya ingin menggunakan variabel yang sama dengan penelitian ini, maka sebelum melakukan penelitian diharapkan peneliti menggunakan alat ukur yang memiliki reliabilitas baik dan tidak mengandung social desirability terutama pada variabel kualitas intimacy.

DAPTAR PUSTAKA
Trifiani, N.R & Margaretha, (2012).       Pengaruh Gaya Kelekatan Romantis      Dewasa (Adult Romantic Attachment Style) Terhadap Kecendrungan untuk Melakukan Kekerasan Dalam Pacaran. Jurnal psikologi kepribadian dan sosial vol. 1, no.02, juni 2012.
Scharf, M & Mayseless, O (2001). The capacity for romantic intimacy: exploring the contribution of best friend material and parental relationship. Journal of Adolescense 2001, 24, 379-399
M. Eko Septian, P.N (2017). Dinamika Id, Ego, Superego Dalam Konteks Kebutuhan Intimacy (studi pada dewasa muda aktivis dakwah kampus). eJournal psikologi, 2017, 5 (1): 52-62
Aida W.K Choi, (2012). The relationship between Family cohesion and Intimacy in Dating Relationship: A Study Based On Attachment and Exchange Theories. Vol. 1, 2012, 91-109.
LaFollette, H & Graham, G. (1986). Honesty and Intimacy. Jurnal of sosial and personal relationships vol. 3 (1986), 3-18
Chotimah, C. (2015). Hubungan Relegiusitas, Konsep Diri dan Keintiman Keluarga dengan perilaku Seksual Pranikah Pada Mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan Poltekes Bhakti Mulia Sukoharjo. IJMS-Indonesian Journal On Medical Science- Vol 2 no 1-Januari 2015.
Azwar, S. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH KODE ETIK APA ( AMERICAN PSHYCHOLOGICAL ASSOCIATION)