Intimacy Pada Remaja Dilihat Dari Perbedaan Etnis PDF Jurnal
INTIMACY PADA REMAJA
DILIHAT DARI PERBEDAAN ETNIS
Febrianto, Nofrans Eka Saputra
Program Studi Psikologi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Jambi
ABSTRACT
Background Intimacy
is an emotional element in a relationship that involves (self-disclosure) which
results in a relationship, warmth, and trust. Intimacy is a proximity that is
grounded by two people and the power that binds them to stay together. A
feeling that describes the closeness & emotional attachment to others.
Subjective
This study aims to see the imitation of intimacy in ethnic diversity.
Methods
This study used a quantitative approach with cross sectional techniques and
data analysis using ANOVA test. The subject of this study is high school
adolescents in Jambi City with a population of 247 people who have dating
status. Technique of intake of data by using technique of purposive random
sampling.
The result
of aitem quality test used in this research is 27 items which is aitem analysis
test. Eligible aitem is 27 items with r = 0.30, where the reliability results
0, 928. The homogeneity test rule is normal if the probability is greater than
or equal to 0.05 (p> 0.05) with a homogeneity test of 0.023.
Keywords: Relationship, Youth, Ethnicity.
PENDAHULUAN
Banyak fenomena tentang hubungan antar
remaja pada zaman sekarang baik dalam hubungan persahabatan, pacaran, dan
hubungan dengan kuluarga. Fenomena ini sangat di pengaruhi oleh cara bergaul
remaja yang bebas tampa terkontrol oleh orang tua, peran media dan teman
sebaya. Selain faktor exsternal, faktor intirnal juga sangat berpengaruh besar contohnya:
keinginan remaja untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis merupakan suatu
kebutuhan intimacy, hal ini menyebabkan perilaku seksual pranikah pada remaja
semangkin meningkat.
Berdasarkan konferensi pers tahun 2008 di
sebutkan bahwa 1 dari 5 perempuan di Indonesia mengalami kekerasan dalam
hubungan pacaran (set, 2009). komisi
Nasional perempuan juga mencatat setidaknya selama tahun 2010 terjadi 1.299
kasus kekerasan dalam pacaran sedangkan kekerasan oleh mantan pacar sebanyak 33
kasus (Lazuardi, 2011).
Istilah keintiman adalah kata subjektif
dalam hubungan pacaran. Individu yang berbeda mungkin memiliki interpretasi
sendiri terhadap kata tersebut karena latar belakang, jenis kelamin atau
tingkat pendidikan mereka. Saya berpikir bahwa keakraban
menggambarkan kasih sayang antara pasangan; Beberapa pandangan saya itu
sebagai kepercayaan. Karena istilah ini memiliki beberapa definisi, sejumlah
peneliti mencoba memberikan definisi ti itu. Beberapa peneliti mendefinisikan
keintiman sebagai asosiasi dekat atau pertemanan involvers informal kehangatan,
keterbukaan, dan berbagi (Eshleman dan Clake 1978 mengutip lumut dan Schwebel
1993) dan perasaan clossenees, keterhubungan, dan keterikatan dalam hubungan
cinta (Sternberg 1986)
Menurut Sternberg, (2006). Intimacy adalah
elemen emosional dalam suatu hubungan yang melibatkan pengungkapan diri
(self-disclosure) yang akan menghasilkan sesuatu keterkaitan, kehangatan, dan
kepercayaan. Sternberg (2006) juga mengatakan bahwa intimacy adalah kedekatan
yang di dasarkan oleh dua orang dan kekuatan yang mengikat mereka untuk tetap
bersama.
Hubungan dengan keluarga, teman
sebaya atau secara tidak langsung
melalui kontribusinya terhadap kompetensi sosial. Dalam hal ini, kompetensi
sosial bertindak sebagai mediator yang secara langsung mempengaruhi kapasitas
keintiman secara langsung, sedangkan orang tua dan teman berkontribusi pada
keintiman melalui pengaruhnya terhadap kompetensi sosial.
Hazan & Shaver, (1987). Menjelaskan
bahwa hubungan romantis pada masa remaja dan dewasa dapat dikonseptualisasikan
sebagai proses kelekatan sebagai teori kelekatan pada masa kanak dan figur
lekat (orang tua). Teori ini dapat terbentuk atas pengalaman bahwa semenjak
masa remaja, figur lekat seorang mulai di transfer teman maupun pasangan dan
pada masa “transfer” inilah perilaku akan muncul sesuai dengan kelekatan yang
di milikinya, aman ataukah tidak aman.
Pada kenyataannya kebahagiaan antara hubungan
adalah sangat subyektif. Pada umumnya orang memangdang hubungan antar pasangan
itu mempunyai kebahagiaan dalam pasangan, namun hal tersebut tidak semua orang
merasakannya, begitupun sebaliknya. Kebahagian yang dirasakan oleh pasangan
atau orang lain adalah pasangan yang kurang bahagia mungkin saja di presepsikan
sebagai pasangan yang berbahagia oleh masyarakat, karena setiap orang tidak
melihat sisi kebahagian dari satu faktor saja.
Pada dasarnya kebahagian akan tercapai
jika ada kesediaan saling berkorban, saling menyesuaikan diri, saling merawat
cinta kasih, perasaan menjadi satu, kedewasaan kepribadian dan kematangan
emosional. Pengertian kebahagian adalah perasaan bahagia, kesenangan dan
ketentraman hidup lahir batun, keberuntungan dan kemajuan. Selanjutnya
pengertian hubungan adalah keadaan hubungan, kontak, sangkut-paut, ikatan
pertalian kekeluargaan atau persahabatan.
Bagaimana dengan kebahagiaan dalam
hubungan intimacy? Sebenarnya untuk mencapai kebahagiaan dalam hubungan
intimacy terdapat beberapa aspek yang harus dipenuhi seperti: komitmen,
komunikasi, kepeduliaan dan afeksi, penanaman sifat, perspektive tallking
wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan
terhadap integritas individu, dan kemandirian. Masalahnya tidak semua orang
mampu melakukan aspek-aspek tersebut. Dan kebanyakan orang juga melihat
kebahagiaan dari beberapa faktor yang lain yang mereka rasakan lebih mudah dari
pada hal-hal tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti
tertarik untuk membuktikan perbedaan intimacy antara suku melayu, jawa, minang,
batak.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan menggunakan analisis regresi untuk membuktikan hipotesis penelitian.
Subjek penelitian ini adalah siswa SMA N di kota Jambi, yang berstatus
berpacaran.
Sekala penelitian
Pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan metode skala, yaitu sekala intimacy.
Skala intimacy disusun melalui indikator
komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi, penanaman sifat, perspektive
talking, wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi,
penghormatan terhadap integritas individu dan kemandirian Orlovski, (1993). Jenis
jawaban yaitu favourable dengan pilihan STS (Sanggat tidak setuju) mendapat
skor 4, TS (Tidak setuju) mendapat nilai 3, S (Setuju) mendapat nilai 2, dan SS
(Sanggat setuju) mendapat nilai 1.
Reliabilitas dan Validitas Skala
Penelitian
Pada penelitian ini, alat ukur yang
digunakan adalah skala yang terlebih dahulu dilakukan uji coba kelayakan dengan
uji coba validitas dan reliabilitasnya yang dalam hal ini peneliti menggunakan
bantuan program SPSS 16.0 For Windows
dari MS Windows XP.
Pada pengujian kualitas aitem yang dipakai
dalam penelitian ini dilakukan uji analisis aitem dengan melihat daya beda
aitem dengan aitem total korelasi. Aitem yang memenuhi syarat jika r = 0,30.
Adapun hasil uji reliabilitas masing-masing skala dapat dilihat pada tabel 1
dibawah ini :
Tabel 1. Reliabilitas dan Validitas
Skala Penelitian
|
Variabel
|
Jumlah
Aitem Valid
|
Sig
|
Ket
|
|
Intimacy
|
27
|
0,928
|
Reliabel
|
Aitem yang memenuhi syarat dan telah
dilakukan uji reliabilitas dan validitas pada skala penelitian dapat dilihat
pada table 2 dibawah ini:
Tabel
2. Blueprint
Skala Intimacy
|
ASPEK
|
AITEM
|
|
|
FAOUVORABLE
|
JUMLAH
|
|
|
Komitmen
|
1,10,19
|
3
|
|
Komunikasi
|
2,11,20
|
3
|
|
Kepedulian dan
afeksi
|
3,12,21
|
3
|
|
Pemahaman
sifat pasangan
|
4,13,22
|
3
|
|
Perspektive talking
|
5,14,23
|
3
|
|
Wewenang dan
pengambilan keputusan
|
6,15,24
|
3
|
|
Mempertahankan
minat pribadi
|
7,16,25
|
3
|
|
Penghormatan
terhadap integritas individu
|
8,17,26
|
3
|
|
Kemandirian
|
9,18,27
|
3
|
|
JUMLAH
|
27
|
27
|
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Subjek penelitian
Subjek penelitian ini berjumlah 247 orang dengan
subjek berjenis kelamin laki-laki berjumlah 108 orang (43,7 %), dan subjek
perempuan berjumlah 139 orang (56,3 %).
Tabel 3. Deskripsi Subjek Berdasarkan Jenis Kelamin
|
Jenis
Kelamin
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
Laki-Laki
|
108
|
43,7
|
|
Perempuan
|
139
|
56,3
|
|
Jumlah
|
247
|
100
|
Subjek penelitian yang berjumlah 247 orang
ini, memiliki usia yang berbeda-beda, usia 14 tahun 1 orang (0,4 %), usia 15
tahun 56 orang (22,7 %), usia 16 tahun 116 (47,0 %), 17 tahun 65 orang (26,3 %),
usia 18 tahun 7 orang (2,8%), dan usia 19 tahun 2 orang (0,8 %).
Tabel 4. Deskripsi Subjek Berdasarkan usia
|
Usia
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
14 tahun
|
1
|
0,4
|
|
15 tahun
|
56
|
22,7
|
|
16 tahun
|
116
|
47,0
|
|
17 tahun
|
65
|
26,3
|
|
18 tahun
|
7
|
2,8
|
|
19 tahun
|
2
|
0,8
|
|
Jumlah
|
247
|
100
|
Selanjutnya,
subjek yang berjumlah 247 orang ini juga berasal dari sekolah yang
berbeda-beda, SMAN 1 Kota Jambi 42 orang (17,0 %), SMAN 2 Kota Jambi 3 orang
(1,2 %), SMAN 3 Kota Jambi 12 orang (4,9 %) , SAMN 4 Kota Jambi 38 orang (15,4
%), SMAN 5 Kota Jambi 5 orang (2,0 %), SMAN 6 Kota Jambi 17 orang (6,9 %), SMAN
7 Kota Jambi 25 orang (10,1 %), SMAN 8 Kota Jambi 23 orang (9,3 %), SMAN 9 Kota
Jambi 48 orang (18,6 %), SMAN 10 Kota Jambi 24 orang (24,7 %), SMAN 11 Kota
Jambi 12 orang (4,9 %).
Tabel 5. Deskripsi Subjek Berdasarkan asal sekolah
|
Asal sekolah
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
SMAN 1 Kota
Jambi
|
42
|
17,0
|
|
SMAN 2 Kota
Jambi
|
3
|
1,2
|
|
SMAN 3 Kota
Jambi
|
12
|
4,9
|
|
SMAN 4 Kota
Jambi
|
38
|
15,4
|
|
SMAN 5 Kota
Jambi
|
5
|
2,0
|
|
SMAN 6 Kota
Jambi
|
17
|
6,9
|
|
SMAN 7 Kota
Jambi
|
25
|
10,1
|
|
SMAN 8 Kota
Jambi
|
23
|
9,3
|
|
SMAN 9 Kota
Jambi
|
48
|
18,6
|
|
SMAN 10 Kota
Jambi
|
24
|
9,7
|
|
SMAN 11 Kota
Jambi
|
12
|
4,9
|
|
Jumlah
|
247
|
100
|
Selanjutnya, yang berjumlah 247 orang ini juga berasal dari suku yang
berbeda-beda, Ada yang berasal dari duku melayu sebanyak 119 orang (48,2%),
suku Jawa 72 orang (29,1 %), suku Minang 25 orang (10,1 %), dan suku Batak 31
orang (12,6 %).
Tabel 6. Deskripsi Subjek Berdasarkan Agama.
|
Agama
|
Frekuensi
|
persentase
|
|
Islam
|
233
|
94,3
|
|
Kristen
|
12
|
4,9
|
|
Khatolik
|
1
|
0,4
|
|
Budha
|
1
|
0,4
|
|
jumlah
|
247
|
100
|
Subjek
yang berjumlah 247 dengan subjek beragama islam 233 orang (94,3%), kristen 12
orang (4,9%), khatolik 1 orang (0,4%), budha 1 orang (0,4%)
Tabel 7. Deskripsi Subjek Berdasarkan Suku
|
Suku
|
Frekuensi
|
Persentase
|
|
Melayu
|
119
|
48,2
|
|
Jawa
|
72
|
29,1
|
|
Minang
|
25
|
10,1
|
|
Batak
|
31
|
12,6
|
|
Jumlah
|
247
|
100
|
Deskripsi
Data Penelitian
Deskripsi data
penelitian bertujuan untuk memberi gambaran mengenai keadaan distribusi skor
skala pada kelompok subjek yang diberikan pengukuran, sehingga dapat berfungsi
sebagai informasi mengenai keadaan subjek pada variabel yang diteliti.
Berdasarkan data subjek penelitian diperoleh data pada tiap-tiap variabel
adalah sebagai berikut :
Tabel 8. Deskripsi Data Penelitian
|
Variabel
|
Min
|
Max
|
Mean
|
SD
|
|
Intimacy
|
27
|
108
|
87,69
|
10,834
|
1. Skor Variabel Intimacy
Azwar (2004) menyarankan bahwa untuk memberi makna kualitatif terhadap
data kuantitatif adalah dengan menggunakan model distrubusi normal. Dengan
demikian kategorisasi tentang tinggi rendah dan sedang skor subjek ditentukan
dari posisinya dalam distribusi normal. Model inilah yang akan digunakan dalam
penelitian ini. Suatu distribusi normal terdiri dari enam area dalam satuan
standar deviasi. Tiga disebelah kiri rerata yang bertanda negatif (-1 SD, -2 SD
dan -3 SD) dan tiga di sebelah kanan yang bertanda positif (+1 SD, +2 SD, +3
SD).
Azwar (2000) membagi 5 kategorisasi, yaitu kurang dari -1.5 SD + Mean
berarti sangat rendah, lebih dari -1.5 SD + Mean sampai dengan kurang dari -0.5
SD + Mean berarti rendah, lebih mulai dari -0.5 SD + Mean sampai kurang dari
0.5 SD + Mean termasuk kelompok sedang, lebih dari 0.5 SD + Mean sampai dengan
1.5 SD + Mean termasuk kelompok tinggi dan terakhir lebih dari 1.5 SD + Mean
berarti masuk kategorisasi sangat tinggi.
Tabel 9. Katagori Skor Variabel Intimacy
|
Kategori
|
Subjek
|
|
|
Jmh
|
%
|
|
|
rendah
|
26
|
10,53
|
|
sedang
|
187
|
75,71
|
|
tinggi
|
34
|
13,77
|
Tabel kategorisasi diatas menunjukan subjek tersebar pada seluruh
kategori. Subjek dengan katagori rendah berjumlah 26 orang (10,53%), subjek dengan katagori
sedang 187 orang (75,71%), subjek dengan katagori tinggi 34 orang (13,77%).
Hasil
Uji Asumsi
a. Uji asusmsi Normalitas
Uji normalitas
dilakukan menggunakan teknik kolmogorov-Smirnov
dengan bantuan program spss 16 for
windows. Kaidah uji normalitas dinyatakan normal jika probabilitas lebih
besar atau sama dengan 0,05 (p > 0,05). Hasil uji normalitas dapat dilihat
pada tabel 10.
Tabel 10. Uji Normalitas
|
Variabel
|
K-SZ
|
Sig
|
Ket
|
|
intimacy
|
1,285
|
0,074
|
Normal
|
b. Uji homogenitas
Uji homogenitas dilakukan menggunakan
Tukey dengan bantuan program SPSS 16for Windows. Kaidah uji homogenitas
dinyatakan normal jika probabilitas lebih besar atau sama dengan 0,05 (p >
0,05). Hasil uji homogenitas dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Uji Homogenitas
|
Variabel
|
N
|
Sig
|
Ket
|
|
Persahabatan
|
247
|
0.023
|
Homogen
|
Hasil
Uji Hipotesis
Berdasarkan pengujian hipotesis
tersebut diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Perbedaan hubungan persahabatan pada remaja
dengan keberagaman suku yang berbeda menunjukan koefisien p sebesar 0,23 dengan signifikan
sebesar 0,000 yang berarti ada perbedaan yang signifikan antara suku melayu,
jawa, minang, dan batak dalam menjalin hubungan
intimacy. Hal tersebut menunjukan
bahwa hipotesis mayor diterima.
2. Berdasarkan hasil diatas dimana adanya perbedaan
suku yang signifikan pada remaja dalam menjalin hubungan intimacy atau adanya interaksi yang berbeda dalam intimacy pada remaja dengan suku yang berbeda. Hal tersebut
menunjukan bahwa hipotesis minor ditolak.
PEMBAHASAN
Berdasarkan skor
variabel intimacy diketahui
bahwa kecenderungan skor subjek penelitian berada di kategori sedang dan dan tinggi, yaitu 75,71% (katagori sedang),
13,77% (Katagori tinggi), dan 10,53% berada di katagori rendah dari 247 subjek,
sehingga dapat di ketahui sebesar 89,48% dari subjek penelitian merasa hubungan
intimacy yang mereka jalani sudah berjalan baik, Hal ini secara dominan
disebabkan subjek
penelitian merasa mempunyai komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi,
penanaman sifat, prespektive talking,
wewenang dan pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan
terhadap integritas dan kemandirian yang baik dalam hubungan pacaran.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
hubungan intimacy yang di jalani telah terpenuhi dan subjek merasa hubungan
yang di jalani dalam pacaran memberikan hubungan yang baik dalam intimacy
mereka hasil analisisnya dapat dilihat pada tabel 12.
Tabel
11.
Frekuensi Masing-Masing Aitem Intimacy
|
Komponen
|
No. Aitem
|
Persentase
|
|
Komitmen
|
1.Memelihara
hubungan akrab adalah tugas setiap pasangan.
|
93,9%
|
|
10.Berjanji
untuk saling terbuka adalah bagian
dari menjalin hubungan dekat.
|
87%
|
|
|
19.kesetiaan
dalam situasi apapun terhadap pasangan adalah hal yang dapat saya lakukan.
|
87,9%
|
|
|
Komunikasi
|
2.Merasa
nyaman ketika bercerita dan curhat dengan pasangan dan terbuka.
|
89,9%
|
|
11.jujur
adalah kunci dari komunikasi dalam menjalin hubunga dekat.
|
94,4%
|
|
|
20.pasangan
adalah tempat terbaik untuk meminta saran dan barbagi cerita suka maupun
duka.
|
82,6%
|
|
|
Kepedulian dan afeksi
|
3.Memperhatikan
pasangan adalah tugas dari diri sendiri.
|
81,8%
|
|
12.Menghargai
pendapat pasangan adalah sebagai bentuk rasa peduli.
|
92,3%
|
|
|
21.Mementingkan
kepentingan pasangan di atas
kepentingan pribadi adalah cara untuk memperhatikan dan peduli terhadap
pasangannya.
|
72,5%
|
|
|
Pemahaman sifat
|
4.Mampu
menerima sifat pasangan adalah usaha untuk memperhatikan hubungan.
|
94,4%
|
|
13.Menerima
kekurangan setiap pasangan itu adalah hal yang baik.
|
92,3%
|
|
|
22.Dalam
kondisi bagaimanapun saya dapat memahami sifat baik maupun buruk terhadap
pasangan saya.
|
89,5%
|
|
|
Perspektive talking
|
5.Memposisikan
diri pada sudut pandang akan membantu penyelesaian masalah.
|
87%
|
|
14.Berusaha
memahami pasangan saat komunikasi adalah hal yang baik.
|
93,5%
|
|
|
23.Dalam
berkomunikasi saya berusaha memahami apa yang dirasakan oleh pasangan saya.
|
89,5%
|
|
|
Wewenang dan pengambilan keputusan
|
6.Menghormati
keputusan bersama adalah bagian dari upaya menjaga hubungan yang baik.
|
91,3%
|
|
15.Menghargai
perbedaan pendapat dari pasangan merupakan kewajiban diri sendiri.
|
89,1%
|
|
|
24.Dalam
keadaan tertentu saya mampu menghargai sikap pasangan dan keputusan yang
diambilnya.
|
97,6%
|
|
|
Mempertahankan minat pribadi
|
7.Memberikan
kebebasan dalam melakukan aktifitas adalah upaya memperhatikan hubungan
dekat.
|
84,6%
|
|
16.Tidak
ikut serta dengan apa yang pasangan lakukan adalah bagian untuk menghormati
setiap keputusan masing-masing.
|
80,6%
|
|
|
25.Dalam
kondisi tertentu, saya menghormati aktivitas yang dilakukan pasangan saya.
|
96,%
|
|
|
Penghormatan terhadap integritas
|
8.Menghargai
pandangan hidup pasangan adalah cara untuk menghormatinya.
|
90,7%
|
|
16.Hubungan
akrab menunjukan relasi harmonis antara pasangan.
|
80,6%
|
|
|
26.Berteman
dengan siapa saja adalah hak pasangan saya.
|
85%
|
|
|
Kemandirian
|
9.Menentukan
pendapat sendiri adalah bagian dalam membangun kemandirian.
|
84,2%
|
|
17.Perbedaan
sifat adalah bentuk menjaga hubungan akrab terhadap pasangan.
|
94,3%
|
|
|
27.Dalam
menentukan keputusan atau memilih suatu hal tertentu adalah bagian
kemandirian yang saya bangun dari pasangan saya.
|
89,9%
|
Jiika di amati dari persentase jumlah
point dari masing-masing aitem dari skala intimacy, dapat pula di simpulkan
bahwa hubungan intimacy ini lebih dominan disebabkan bahwa dalam hubungan
pacaran memiliki komitmen, komunikasi, kepedulian dan afeksi, pemahaman sifat, perspective talking, wewenang dan
pengambilan keputusan, mempertahankan minat pribadi, penghormatan antar
integritas dan kemandirian yang baik dalam menjalin hubungan. Hal ini sebagian
subjek merasa saling membutuhkan satu sama lain antar hubungan.
Tabel
12. Perbedaan intimacy berdasarkan suku
|
Suku
|
Perbedaan
Rata-Rata
(A-B)
|
Signifikansi
|
|
|
A
|
B
|
||
|
|
Jawa
|
-2,833
|
Sig*
|
|
Melayu
|
Batak
|
-0,839
|
Sig*
|
|
|
Minang
|
-3,316
|
Sig*
|
|
|
Melayu
|
2,833
|
Sig*
|
|
Jawa
|
Batak
|
1,994
|
Sig*
|
|
|
Minang
|
-0,483
|
Sig*
|
|
|
Melayu
|
0,839
|
Sig*
|
|
Batak
|
Jawa
|
-1,994
|
Sig*
|
|
|
Minang
|
-2,477
|
Sig*
|
|
|
Melayu
|
3,316
|
Sig*
|
|
Minang
|
Jawa
|
0,483
|
Sig*
|
|
|
Batak
|
2,477
|
Sig*
|
*
= > 0.05
** = £
0.05
*** = £
0.01
Berdasarkan tabel diatas, dapat dilihat
bahwa:
1. Intimacy pada remaja dengan suku melayu memiliki
perbedaan signifikan dengan remaja suku jawa, suku batak dan suku minang.
2. Intimacy pada remaja suku jawa memiliki perbedaan yang
signifikan dengan remaja suku melayu, suku batak, dan suku minang.
3. Intimacy remaja suku batak memiliki perbedaan yang signifikan
dengan remaja suku melayu, suku jawa dan suku minang.
4. Intimacy remaja suku minang memiliki perbedaan yang
signifikan dengan remaja suku melayu, suku jawa, dan suku batak.
KESIMPULAN
Berdasarkan teori dan hasil penelitian,
dapat di simpulkan bahwa:
1. Istilah
keintiman adalah kata subjektif dalam hubungan pacaran. Individu yang berbeda
mungkin memiliki interpretasi sendiri terhadap kata tersebut karena latar
belakang, jenis kelamin atau tingkat pendidikan mereka. Beberapa saya berpikir
bahwa keakraban menggambarkan kasih sayang antara pasangan; Beberapa pandangan
saya itu sebagai kepercayaan.
2. Intimacy pada remaja berada
di kategori sedang dan tinggi, yaitu 75,71% (katagori sedang), 13,77% (Katagori
tinggi), dan 10,53% berada di katagori rendah dari 247 subjek, sehingga dapat
di ketahui sebesar 89,48% dari subjek penelitian merasa hubungan intimacy yang
mereka jalani sudah berjalan baik.
3. Intimacy pada remaja berdasarkan suku memiliki perbedaan
yang signifikan, antara suku melayu, suku, jawa, suku batak, dan suku minang.
SARAN
Dalam penelitian ini,
ada beberapa saran yang dijukan oleh peneliti, antara lain yaitu :
Kepada Peneliti selanjutnya dapat
melakukan penelitian dengan variabel yang sama tetapi dalam konteks hubungan
interpersonal yang berbeda seperti dalam hubungan intimacy dalam pacaran pada
usia remaja
Jika peneliti selanjutnya ingin menggunakan variabel yang sama dengan
penelitian ini, maka sebelum melakukan penelitian diharapkan peneliti
menggunakan alat ukur yang memiliki reliabilitas baik dan tidak mengandung
social desirability terutama pada variabel kualitas intimacy.
DAPTAR
PUSTAKA
Trifiani, N.R & Margaretha,
(2012). Pengaruh Gaya Kelekatan
Romantis Dewasa (Adult Romantic
Attachment Style) Terhadap Kecendrungan untuk Melakukan Kekerasan Dalam
Pacaran. Jurnal psikologi kepribadian dan sosial vol. 1, no.02, juni 2012.
Scharf, M & Mayseless, O (2001). The
capacity for romantic intimacy: exploring the contribution of best friend
material and parental relationship. Journal
of Adolescense 2001, 24, 379-399
M. Eko Septian, P.N (2017). Dinamika Id,
Ego, Superego Dalam Konteks Kebutuhan Intimacy (studi pada dewasa muda aktivis
dakwah kampus). eJournal psikologi, 2017, 5 (1): 52-62
Aida W.K Choi, (2012). The relationship
between Family cohesion and Intimacy in Dating Relationship: A Study Based On
Attachment and Exchange Theories. Vol. 1, 2012, 91-109.
LaFollette, H & Graham, G. (1986).
Honesty and Intimacy. Jurnal of sosial
and personal relationships vol. 3 (1986), 3-18
Chotimah, C. (2015). Hubungan
Relegiusitas, Konsep Diri dan Keintiman Keluarga dengan perilaku Seksual
Pranikah Pada Mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan Poltekes Bhakti Mulia
Sukoharjo. IJMS-Indonesian Journal On Medical
Science- Vol 2 no 1-Januari 2015.
Azwar, S. (1997).
Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Comments
Post a Comment