Makalah Kualitatif "Stress Pada Anak Korban Bullying"



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
   Era pendidikan saat ini telah di pusingkan dengan maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak uasia sekolah yang sangat memperihatikan bagi pendidik dan orang tua. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk menimba ilmu serta membentuk kareakter pribadi yang positif ternyata malah terjadi tempat suburnya praktek-praktek perilaku bullying sehingga memberikan ketakutan hingga stres bagi anak korban bullying.
   Pengertian tentang perilaku bullying semangkin meningkat di luar negeri. Penelitian di picu oleh maraknya pelajar yang bunuh diri yang terjadi di sekolah. Pada banyak negara, school bullying sudah di sikapi secara serius, bahkan di beberapa negara asia fenomena ini telah banyak di bahas dan di lakukan penelitian-penelitian. Sedangkan di indonesia sendiri, oenelitian dan pembicaraan tentang hal ini masih sedikit sehingga kurang banyak data yang dapat di proleh mengenai dampak yang di akibatkannya.
   Perilaku bullying kurang begitu di perhatikan di indonesia karena dianggap tidak berpengaruh yang besar pada siswa. Pembuktian sejiwa membuktikan bahwa sebagian kecil guru (27,5%) menganggap bullying merupakan perilaku yang normal dan sebagian besar guru (73%) menganggap bullying sebagai perilaku yang membahayakan siswa/i. Hal tersebut tidak bisa dianggap normal karena siswa tidak dapat belajar apabila siswa berada dalam keadaan tertekan, terancap dan ada yang menindasnya setiap hari. Perilaku bullying paling sering terjadi pada masa-masa sekolah menengah atas (SMA), di karenakan pada masa ini remaja memiliki egosintrisme yang tinggi. Bullying pada kenyataanya berdampak buruk bagi fisik terlebih psikis para korbanya. Dampak fisik berupa luka-luka ringan hingga berat, bahkan sampai berujung kematian, seperti kasus bullying yang dilakukan para kakak kelas sebuah perguruan tinggi negri jatinangor-sumedang kepada adik kelasnya. Dampak psikis berhubungan dengan meningkatnya depresi, agresi, penurunan nilai akademik karena kemampuan analisisnya terhambat stress, bahkan tindakan bunuh diri.
Perilaku bullying juga terjadi di jambi, bukan hanya terdapat di SMP dan SMA kasus yang sama juga terjadi di tingkat universitaskabar buruk muncul dari Orientasi Studi Dan Pengenalan Kehidupan Kampus (Ospek) Fakultas perternakan UNJA. Menurut salah satu mahasiswa, Ospek tersebut di bubarkan olehRektor UNJA, Prof Johni Najwan. Pembubaran dilakukan karena dalam prosesnya, ada unsur bullying dan dugaan pelecehan seksual karena salah satu mahasiswi baru ada yang di pegang payudaranya oleh senior, jadi Rektor langsung bubarkan Ospek fakultas Perternakan, ungkap salah satu mahasiswa. (KABAR JAMBI-26/08/2016)
   Stress ini di sebab kan oleh tuntutan fisik dari tubuh (kondisi penyakit, latihan, dll) atau oleh kondisi lingkungan dan sosial yang dinilai potensial membahayakan tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping.
   Stress adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa tegang. Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stress mengacu pada peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi ini di sebut sebagai penyebab stress dan reaksi individu terdapat situasi stress ini di sebut sebagai respon stres. Stres adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun pasikologi. Jadi, stres dapat juga di sebabkan oleh perilaku bullying fisik maupun bullying verbal. (Nasution, 2007).
   Masa remaja adalah masa transisi perkembangan atara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini remaja mencari indetitas diri. Masa remaja di tandai oleh perubahan yang besart di antaranya kebutuhan untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologi. Masa ini sebagai periode “badai dan tekanan” atau “storm & stress” suatu masa dimana ketegangan emosi meningkat sebagai akibat dari perubahan fisik dan psikologis. Pornografi, penyalah gunaan narkoba, berbagai bentuk kekerasan (tauran pelajar) merupakan penomena sosial yang terjadi pada remaj saat ini. Tidak jarang terjerumus didalamnya,. Disini remaja memerlukan moral sebagai pedoman menemukan indetitas dirinya. Di masa inilah banyak terjadi perilaku menyimpang yang dilakukan remaja. Dan bullying salah satu yang harus di perhatikan oleh orang tua.
   Disinilah peran orang tua sangat di butuhkan untuk mengontrol perilaku remaja, mengajarkannya mana yang baik dan yang buruk, memngajarkan mana yang boleh mana yang tidak boleh dilakukan oleh remaja. Orang tua adalah faktor utama suksesnya anak menjalani kehidupan, begitu pentingnya faktor keterikata orang tua dalam menentukan arah perkembangan anak, maka orang tua harus senang tiasa menjaga dan mempertahankan keterikatan ini. Pada orang tua yang keduanya bekerja, mereka tidak banyak mempuyai waktu untuk membimbing anaknya. (Maharani 2013)

   Dan seharusya masa remaja tumbuh dan berkembang selama perjalanan kehidupanya melalui beberapa priode atau fase-fase perkembangan. Setiap fase perkembangan mempuyai serangkaian perkembangan yang harus di selesaikan dengan baik oleh setiap individu. Sebab, kegagalan menyelesasikan tugas-tugas perkembangan pada fase tertentu berakibat tidak baik pada kehidupan fase berikutnya.
   Ada hal yang di harapkan dimiliki oleh remaja dalam mempersiaspkan diri memasuki alam kehidupan masa dewasa, serta memiliki kebutuhan pribadi dalam arti luas. Dari segi individu dikaitkan dengan perkembangan pikir, sikap, perasaan, kemauan dan perlakuan nyata. Dari segi lingkungan dan semacam “tuntutan” dari faktor sosial, religius, nilai-nilai dan norma yang hidup didalamnya. Tuntutan itu “dikenakan” bagi induvidu sebagai bagian dari itu juga.
1.2  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana tingkat stress remaja korban bullying
2.      Bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi stress pada remaja korban bullying
3.      Bagaimana malasah-masalah yang terkait dengan stress pada remaja korban bullying
4.      Bagaimana dampak stress pada remaja korban bullying
5.      Bagaimana upaya mengurangi stress pada remaja korban bullying

1.3  Tujuan Penelitian

Mengeai tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana stress pada korban bullying itu yang sebenarnya. Dengan mengetahui stress pada remaja korban bullying kita bisa menarik kesimpula bahwa stress pada remaja korban bullying dan bagaimana cara untuk mengatasi atau coping stres pada korban tersebut.





1.4  Mamfaat Penelitian

1.      Meningkatkan pemahaman mengenai strees pada remaja korban bullying, sehingga dapat mengurangi, mencegah, atau coping stress tersebut kepada korban bullying tersebut.
2.      Untuk mencegah terjadinya perilaku bullting yang mengakibatkan stress
3.      Membentuk kepribadian remaja korban bullying
4.      Upaya mengurangi stress pada korban bullying

1.5  Keaslian Penelitian

Peneliian sebelumna ang berkaian dengan peneliian ang akan dilakukan:
No
Peneliti
Judul
Hasil
Perbedaan
1
Puspit Sari
Jurnal Psikologi Volume 8 Nomor 2,Desember2010
Coping Sres Pada Remaja Korban Bulling. Di Sekolah “x”
Gambaran umum coping stres, Gambaran Umum Subjek Penelitian
Gambaran Coping Stres Berdasarkan Jenis
kelamin Responden, Gambaran Coping Stress Berdasarkan Usia
Responden
Gambaran umum remaja berdasarkan dimensi coping sres

Berdasarkan hasil analisa penelitian dapat
disimpulkan bahwa sebagian besar remaja di sekolah
X Bogor menggunakan emotional focused coping.
Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar
remaja di sekolah tersebut belum memiliki kemampuan
menghadapi stressor yang dialaminya. Oleh
karena itu, keterampilan dalam menggunakan problem
focused coping perlu segera dilatih dan dikembangkan
agar kelak para remaja tersebut siap menghadapi
stressor.

2
Indri Kamala Nasution, 2007
Stres Pada Remaja
Pengertian stres, pengolongan stres, stresor, reaksi terhadap sres.
Pada penelitian ini mengkaji pada peynebab atau faktor-faktor mempengaruhi stres pada umumnya.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Stres

2.1.1        Pengertian stress
            Dalam pengertian umum, stress adalah suatu tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri individu. Sesuatu tersebut dapat terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara harapan dan kenyataan yang dinginkan oleh individu, baik keinginan yang bersifat jasmaniah maupun rohaniah. Menurut McGrath dalam Weinberg dan Gould (2003:81), stress didefinisikan sebagai “a substantial imbalance between demand (physical and/or psychological) and response capability, under conditions where failure to meet that demand has importance consequences”. Artinya, stress akan muncul pada individu bila ada ketidakseimbangan atau kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhannya baik yang bersifat jasmani maupun rohani. (Cakrawala Pendidikan, Februari 2010, Th. XXIX, No. 1)

               Menurut Lazarus & Folkman (dalam Morgan, 1989) stress adalah keadaan internal yang dapat di akibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh (kondisi penyakit, latihan, dll) atau oleh kondisi lingkungan dan social yang di nilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan individu untuk melakukan coping.

               Menurut Selye (Bell, 1996) stress diawali dengan reaksi waspada (dalam reaction) terhadap adanya ancaman, yang di tandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti: meningkatnya denyut jantung, yang kemudian di ikuti dengan reaksi pernolakan terhadap stressor dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga (exhaustion) jika individu tidak cukup mampu untuk bertahan.
                Rice (1987) mengatakan bahwa stress adalah suatu kejadian atau stimulus lingkungan yang menyebabkan individu merasa tegang. Atkinson (2000) mengemukakan bahwa stress mengacu pada peristiwa yang di rasakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi ini di sebut sebagai penyebab stress dan reaksi individu terhadap situasi stress ini di sebut sebagai respon stress. Stress adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis (Chaplin, 1999). (Nasition, Stres Pada Remaja, 2007)

2.1.2        Aspek-aspek setres
A.    Aspek biologis
                Waler canon (dalam sarpino,1994) memberikan deskripsi mengenai bagaimana reaksi tubuh terhadap suatu peristiwa yang mengancam. Ia menebu reaksi tersebu sebagai fight-or-flight response Karena respons fisiologis dengan cepat terhadap situasi yang mengancam. Akan tetapi arousal yang tinggi terus menerus muncul dapat membahayakan kesehaan individu.
1.      Fase reaksi yang mengejutkan (alarm reaction)
Pada fase ini individu secara fisiologis merasakan adanya ketidakberesan seperti jantungnya berdegup, keluar keringat dingin, muka pucat, leher tegang, nadi bergerak cepat dan sebagainya. Fase ini merupakan pertanda awal orang terkena stres.
2.      Fase perlawanan (Stage of Resistence)
Pada fase ini tubuh membuat mekanisme perlawanan pada stres, sebab padatingkat tertentu, stres akan membahayakan. Tubuh dapat mengalami disfungsi, bila stres dibiarkan berlarut-larut. Selama masa perlawanan tersebut, tubuh harus cukup tersuplai oleh gizi yang seimbang, karena tubuh sedang melakukan kerja keras.
3.      Fase Keletihan (Stage of Exhaustion)
Fase disaat orang sudah tak mampu lagi melakukan perlawanan. Akibat yang parah bila seseorang sampai pada fase ini adalah penyakit yang dapat menyerang bagian–bagian tubuh yang lemah.

B.     Aspek psikologis
Reaksi psikologis terhadap stressor meliputi:

1.      Kognisi
Cohen menyatakan bahwa stres dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktifitas kognitif.
2.      Emosi
Emosi cenderung terkait stres.individu sering menggunakan keadaan emosionalnya untuk mengevaluasi stres dan pengalaman emosional (Maslach, Schachter & Singer, dalam Sarafino, 2006). Reaksi emosional terhadap stress yaitu rasa takut, phobia, kecemasan, depresi, perasaan sedih dan marah.
3.      Perilaku Sosial
Stres dapat mengubah perilaku individu terhadap orang lain. Individu dapat berperilaku menjadi positif dan negatif (dalam Sarafino, 2006). Stres yang diikuti dengan rasa marah menyebabkan perilaku sosial negatif cenderung meningkat sehingga dapat menimbulkan perilaku agresif (Donnerstein & Wilson, dalam Sarafino, 2006). (Nasition, Stres Pada Remaja, 2007)

2.1.3        Penyebab stress atau stressor
              Stressor adalah faktor-faktor dalam kehidupan manusia yang mengakibatkan terjadinya respon stres. Stressor dapat berasal dari berbagai sumber, baik dari kondisi fisik, psikologis, maupun sosial dan juga muncul pada situasi kerja, dirumah, dalam kehidupan sosial, dan lingkungan luar lainnya. Istilah stressor diperkenalkan pertama kali oleh Selye (dalam Rice, 2002). Menurut Lazarus & Folkman (1986) stressor dapat berwujud atau berbentuk fisik (seperti polusi udara) dan dapat juga berkaitan dengan lingkungan sosial (seperti interaksi sosial). Pikiran dan perasaan individu sendiri yang dianggap sebagai suatunancaman baik yang nyata maupun imajinasi dapat juga menjadi stressor.

2.1.4        Dampak Stres Pada Individu
             Pada umumnya, individu yang mengalami ketegangan akan mengalami kesulitan dalam memanajemen kehidupannya, sebab stress akan memunculkan kecemasan (anxiety) dan system syaraf menjadi kurang terkendali. Pusat syaraf otak akan mengaktifkan saraf simpatis, sehingga mendorong sekresi hormon adrenalin dan kortisol yang akhirnya akan memobilisir hormone-hormon lainnya. Individu yang berada dalam kondisi stress, kondisi fisiologisnya akan mendorong pelepasan gula dari hati dan pemecahan lemak tubuh, dan bertambahnya kandungan lemak dalam darah (Waitz, Stromme, Railo,1983:2). Kondisi tersebut akan mengakibatkan tekanan darah meningkat dan darah lebih banyak dialihkan dari system pencernaan ke dalam otot-otot, sehingga produksi asam lambung meningkat dan perut terasa kembung serta mual. Oleh karena itu, stress yang berkepanjangan akan berdampak pada depresi yang selanjutnya juga berdampak pada fungsi fisiologis manusia, di antaranya gagal ginjal dan stroke. Pada dasarnya, penyakit disfungsi secara fisiologis itu diakibatkan oleh terganggunya kondisi psikologis seseorang. Sebagai contoh, perilaku agresif dan defensif individu dapat disebabkan oleh akumulasi stress yang tidak mampu dikenali dan dieliminir oleh individu. Selain itu, kondisi sosial ekonomi individu yang serba kekurangan dan lingkungan hidup (seperti di desa dan di kota besar) juga berpotensi melahirkan stress. (Cakrawala Pendidikan, Februari 2010, Th. XXIX, No. 1)

2.2  Perilaku bullying
2.2.1        Pengertian Perilaku bullying
   Menurut Herbert (Lee, 2004) mendefinisikan bullying sebagai suatu hal yang mengerikan dan kejam yang dilakukan oleh seseorang kepada anak atau sekelompok anak. Bullying dapat terjadi sekali atau berulang-ulang. Korban bullying akan merasakan malu, sakit atau terhina dan terancam. Adapun pelaku bullying mungkin saja tidak menyadarinya. Adapun Hazler (Carney & Merrel, 2001) mendefinisikan bullying sebagai sebuah perilaku yang dilakukan secara berulang-ulang untuk menyakiti orang lain. Perilaku ini dapat dilakukan dengan menyerang secara fisik atau verbal dan mengucilkan korban.
   Menurut Olweus (McEachern dkk, 2005) bahwa bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan oleh satu siswa atau lebih dan diulang setiap waktu. Bullying terjadi karena adanya ketimpangan dalam kekuatan/kekuasaan. Hal tersebut mempunyai arti bahwa siswa yang menjadi korban bullying tidak berdaya dalam menghadapi pelaku bullying. Ada berbagai macam ketimpangan dalam kekuatan/kekuasaan ini, termasuk korban yang secara fisik maupun mental lebih lemah dari pelaku, jumlah pelaku bullying lebih banyak dibandingkan dengan korban bullying.
Menurut Definisi Bullying menurut Ken Rigby (dalam Trevi, 2010) adalah sebuah hasrat untuk me-nyakiti. hasrat ini diperlihatkan kedalam aksi, me-nyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok orang yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang.
2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bullying
   Banyak faktor yang dapat memicu ter-jadinya Bullying, antara lain: temperamen dan kepribadian dengan control yang rendah. Perilaku agresif dan impulsivitas sering diasosiasikan dengan perilaku Bullying. Ketidak pedulian serta rendahnya self-esteem dan kurangnya assertion (ketegasan) sering diasosiasikan dengan victimation (Boyle, 1996, dalam Trevi, 2010)
   Faktor keluarga yaitu factor kualitas hubu-ngan orang tua dengan penggunaan hukuman fisik dirumah dinilai sangat signifikan dengan faktor resiko terjadinya Bullying. (Olweus, dalam Trevi, 2010). Olweus juga melaporkan adanya ketidak-acuhan maternal, pendekatan disiplin yang permisif serta orang tua yang mengunakan hukuman fisik sering diasosiasikan dengan frekuensi tinggi mun culnya perilaku agresif yang terjadi pada berbagai situasi. Anak yang sering terkena bully, mempunyai kecenderungan hubungan yang tidak harmonis pada lingkungan keluarganya. Menjalin komunikasi yang baik dapat membantu anak untuk mengembangkan pikiran yang positif tentang dirinya dan mempunyai kemampuan berinteraksi dengan sesamanya (Noller &Clan, dalam Trevi, 2010). Rigby (2002, dalam Trevi, 2010) dalam penelitiannya membuat kesim-pulan bahwa ketika komunikasi antar keluarga minim, anak akan terlibat dalam Bullying dan dapat menjadi korban. Rigby juga mengatakan bahwa sebagian besar pelaku bully itu berasal dari keluarga yang tidak harmonis dimana sering dikarakteristikan dengan kurangnya kasih sayang dan dukungan penuh dari keluarga. Selanjutnya, Bowers (dalam Trevi, 2010) juga mengatakan bahwa struktur tingkat hirarki yang tinggi tepatnya ketika seorang ayah menghukum anaknya dengan kekerasan fisik dapat memicu anak menjadi pelaku Bullying. Bia-sanya keluarga yang seperti ini tidak mengawasi pergaulan anaknya sehingga anak dapat memasuki pergaulan dengan teman sebaya yang sifatnya nega-tive dan cenderung mempunyai sifat perilaku anti sosial.
   Bullying juga terjadi jika pengawasan dan bimbingan etika dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak, dan peraturan yang tidak konsis-ten. Perbedaan kelas, seperti senioritas, etnis, ekonomi, dan agama menjadi salah satu pemicu ter-jadinya Bullying. Tradisi senioritas seringkali diper-luas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang ber-sifat laten, bagi mereka keinginan untuk melan-jutkan masalah senioritas ada untuk hiburan, penya-luran dendam, irti hati, atau mencari populatritas, melanjutkan tradisi, atau untuk melanjutkan kekua-saan (wawancara dengan pelaku Bullying, astuti, 2008, dalam Trevi, 2010)
   Factor media massa juga bisa menjadi penyebab terjadinya Bullying. Penelitian yang dilakukan oleh Anderson dikutip oleh Rigby, 2002, menyimpulkan bahwa kekerasan melalui televisi atau film, serta video game mejadi bukti konkret untuk memicu terjadinya Bullying baik dalam kurun waktu yang cepat ataupun lama. Efeknya juga akan terlihat berupa bentuk perilaku Bullying mulai dari yang sifatnya ringan sampai dengan yang dapat menelan korban jiwa.














BAB III
METODE PENELITIAN
3.1  Kerangka konsep


Aspek-aspek setres
Aspek psikologis
Penyebab stress atau stressor
1. Fase reaksi yang mengejutkan (alarm reaction)
2.Fase perlawanan (Stage of Resistence)
3. Fase Keletihan (Stage of Exhaustion)
1. Kognisi
2. Emosi
3. Perilaku Sosial
Dampak Stres Pada Individu

Dampak Stres Pada Individu
Stres
Aspek biologis
 













3.2  Desain penelitian
   Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Peneliti mencari makna atau pengalaman dari subjek. Menurut Iskandar (2009) fenomenologi berorientasi untuk memahami, menggali dan menafsirkan arti dari peristiwa-peristiwa, fenomena-fenomena dan hubungan dengan orang-orang yang biasa dalam situasi tertentu.

3.3  Sumber data
    Subjek yang terlibat dalam penelitian adalah satu orang. Karakteristik subjek yang terlibat adalah remaja yang stress akiba perilaku bullying. Subjek yang berusia remaja sesuai dengan kriteria peneliti. Tekhnik pengambilan subjek dengan melakukan observasi terhadap pergaulan teman sebaya, lingkungan sekitar subjek dan melakukan pendekatan terhadap subjek.
3.4  Teknik Pengumpulan data
   Tekhnik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi. Wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam dengan pertanyaan terbuka dan tertutup. Observasi digunakan untuk melihat perilaku subjek.
   Data dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari remaja yang mengalami stres Karena perilaku bullying melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data sekunder diperoleh dengan studi dokumentasi yang berupa pencatatan data-data tertulis yang didapat dari berbagai sumber.

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH KODE ETIK APA ( AMERICAN PSHYCHOLOGICAL ASSOCIATION)

Intimacy Pada Remaja Dilihat Dari Perbedaan Etnis PDF Jurnal